Bakti Raharjo
Just another WordPress.com weblog

FILSAFAT ISLAM

AL-KINDI

A. Biografi Al-Kindi

Al-Kindi mempunyai nama lengkap Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Ash-Shabbah bin Imran bin Ismail bin Al-Ast bin Qays Al-Kindi. Nama Al-Kindi dinisbahkan pada suku (keturunan Kindah) yang menempati daerah selatan jazirah arab, yaitu Banu Kindah, dia lahir di Kuffah tahun 185 H (801 M) dan ayah seorang Gubernur Kuffah pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan Harun Ar-Rasyid (Bani Abbas), sehingga masa kecilnya merasakan pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid hingga berusia 9 tahun.1

Al-Kindi juga merasakan pemerintahan Abbasiyah berikutnya yaitu al-Amin (809-813 M), al-Ma’mun (813-833 M), al-Mu’tashim (833-842 M), al-Wathiq (842-847 M), dan al-Mutawwakkil (847-861 M).2 pada masa pemerintahan al-Ma’mun dia memasuki istana Abbasiyah sebagai pengawas Bait al-Hikmah untuk menterjemahkan dan menyunting karya-karya Yunani.3 Setelah selesai menyelesaikan pendidikan di Basrah, ia melanjutkan pendidikan ke Bagdad hingga tamat.4

Al-Kindi juga bertindak sebagai astrolog istana dan tutor bagi salah satu pangeran yang bernama Ahmad bin Mu’tashim. Selain itu ia juga seorang penulis dan ilmuwan ensiklopedi. Tulisan orisinilnya berjumlah 275 termasuk buku-buku filsafat, logika, fisika, politik, psikologi, etika, matematika, astronomi, kedokteran, musik, optik, astronomi, geografi, fenomenologis, sejarah peradaban, teologi dan bidang-bidang lainnya.5

Al-Kindi hidup dalam suasana pro dan kontra yaitu disaat inquisisi bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Ia terseret dalam gelombang besar mu’tazilah yang menjadi akidah resmi negara pada masa pemerintahan al-Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Wasiq. Pada masa pemerintahan al-Mutawakkil yang cenderung kepada as-sunnah frekuensi mu’tazilah diperkecil.6 Al-Kindi di fitnah telah meremehkan ulama yang mengingkari filsafat dengan dalih sebagai ilmu syirik, jalan menuju kekafiran dan keluar dari agama. Al-Kindi menyingkir dari dimensi politik hingga pemerintahan al-Mu’tashim Billah yang menjadi korban fitnah dan wafat pada tahun 252 H (866 M) ia juga meninggal di Bagdad pada tahun ini.7

B.     Pemikiran Al-Kindi

Menurut Al-Kindi filosofi ialah orang yang berupaya memperoleh kebenaran dan hidup mengamalkan kebenaran yang diperolehnya yaitu orang yang hidup menjunjung tinggi nilai keadilan atau hidup adil.8 Dari beberapa karyanya Al-Kindi dapat bahwa diketahui ia adalah penganut eklektisime.9 dalam metafisika ia mengambil pendapat Aristoteles, dalam psikologi mengambil pendapat Plato, bidang etika ia mengambil pendapat Socrates dan Plato. Namun kepribadiannya sebagai muslim tetap bertahan.10

  1. Matematika

Matematika menurut Al-Kindi merupakan pengantar penting bagi filsafat. Filsafat tak bisa dipelajari tanpa matematika. Matematika diterapkannya dalam filsafat alam dan ilmu kedokteran campuran. Jika ingin membuat campuran panas atau lembab pada derajat pertama, kita harus membuatnya panas atau lembab, jika menginginkan pada derajat kedua sebanyak empat kali, dan begitu seterusnya. Menurut Al-Kindi, ini harus diputuskan dengan indera yang dapat memberi petunjuk tentang relasi proporsional yang ada antara stimulus dan sensasi.11

Al-Kindi sebagai filosofi  Islam juga tak ketinggalan dari filosofi Barat. Dia yang mempunyai pemikiran tinggi juga menyempatkan diri untuk mempelajari  ilmu-ilmu yang bersifat umum. Dengan lahirnya  pemikir Al-Kindi  inilah umat  Islam  menjadi  maju dan tidak di perbudak orang  Barat lagi.

  1. Metafisika Wujud

Menurut Al-Kindi, filsafat yang paling tinggi martabatnya adalah filsafat yang membicarakan Tentang Causa Frima (Ke-Esa-an Tuhan dan berakhirnya alam). Dia meyakini bahwa dunia ini adalah karya Tuhan. Sebab pertama yang satu dan Abadi. Tuhan adalah wujud yang haq yang tidak pernah tiada sebelumnya dan tidak akan pernah tiada selama-lamanya. Ada sejak awal dan tetap ada selama-lamanya. Tuhan tidak didahului oleh wujud lain serta tidak akan pernah berakhir. Tidak ada wujud lain melainkan dengan perantaraan-Nya.12

Al-Kindi menantang filsafat Aristoteles yang menyatakan bahwa penciptaan alam bersifat pribadi. Sedang menurut Wahyu, alam diciptakan oleh Tuhan. Al-Kindi menyampaikan solusinya dengan memadukan pythagorieanisme dan Neoplatonisme bahwa penciptaan merupakan emanasi (pancaran) dari alam tertinggi yang diciptakan oleh Tuhan secara tidak langsung.13

Wujud Tuhan dibuktikan dengan adanya gerak, keanekaan dan keteraturan alam sebagaimana argumentasi filosofi Yunani (Aristoteles) yaitu penggerak yang tidak bergerak. Menurut Al-Kindi ini sejalan dengan argumen ilmu kalam: Alam berubah-ubah, semua yang berubah adalah baru. Karena itu alam ini merupakan ciptaan yang mengharuskan adanya pencipta.14

Membicarakan adanya Tuhan adalah hal yang lebih utama. “اَوَلُ الدِّيْنَ مَعَرِفُةُ الله” Awal agama adalah mengenal Allah. Maksudnya orang yang menginginkan kesempurnaan agamanya hendaklah terlebih dahulu mengenal Tuhannya.

Sebagai Muslim, Al-Kindi berfilsafat tidak hanya sekedar mengandalkan rasio saja, tetapi juga harus berpedoman dengan ayat-ayat al-Qur’an. Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan tentang kekuasaan Tuhan. Sang pencipta yang tidak ada permulaannya (tidak didahului oleh wujud lain) dan tidak pernah berakhir (abadi selamanya). Firman Allah:

هُوَاْلاَوَّلُ وَاْلأخِرُ وَالظَّاهِرُوَالْبَاطِنُ، وَهُوَبِكُلِّ شَئْ ٍعَلِيْمٍ.

Artinya:    “Dia-lah yang awal dan yang akhir yang zhahir dan yang Bathin dan dia maha mengetahui segala sesuatu.15

وَيَبْقى وَجْهُ رَبِّكَ ذُوالْجَللِ وَاْلاِكْرَامِ.

Artinya: “Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”.16

Dalam penciptaan sesuatu termasuk alam ini tidak dilakukan secara langsung artinya tidak berhajat terhadap sesuatu yang lain dan juga memerlukan waktu lama. Tentang penciptaan sesuatu bagi Tuhan dijelaskan melalui firman-Nya:

  1. Bukti-bukti Mengenai ada-Nya

–         Bukti pertama bahwa alam semesta diciptakan dalam dimensi waktu. Alam semesta itu terbatas dalam badan waktu dan gerak, yang berarti bahwa alam semesta pasti telah diciptakan. Menurut hukum sebab akibat, segala sesuatu yang diciptakan pasti mempunyai pencipta yaitu Tuhan. Dengan demikian Dia ada.17

Tentang pembuktian Al-Kindi bahwasanya Tuhan adalah sang pencipta alam semesta dapat disesuai dengan ayat al-Qur’an yang berbunyi:

اَللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّموَاتِ وَاْلاَرْضَ وَمَابَيْنَهُمَا…

Artinya: Allah-lah yang menciptakan dan bumi dan apa diantara keduanya…18

–         Bukti kedua, Al-Kindi menjelaskan istilah “satu” yang mempunyai dan arti. Sebagai objek dapat berarti “tunggal” dan dalam hal penciptaan dianggap Esa. Satu sebagai bilangan bisa diterapkan kepada Tuhan dan objek-objek tunggal. Hal ini hanya bisa diterapkan pada wujud Tuhan.19 Pembuktian Al-Kindi bahwanya Tuhan itu satu tidak berbilang-bilang didasarkan pada ayat-ayat al-Qur’an. Jika Tuhan lebih dari satu maka akan ada persaingan diantara-Nya, dan jika Tuhan sudah bersaing maka kacaulah kehidupan di dunia ini. Adapun ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwasanya Tuhan itu satu (tunggal) ialah:

وَاِلـهُكُمْ اِلهٌ وَاحِدٌ  لاَاِلهَ اِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْم.

Artinya:   “Dan Tuhan-mu adalah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah melainkan Dia yang maha pemurah lagi maha penyayang)20

–         Bukti ketiga didasarkan pada prinsip bahwa sesuatu tidak dapat menjadi sebab dari dirinya, karena agar menjadi sedemikian sesuatu itu harus ada sebelum dirinya. Yang dimaksud “sesuatu” adalah yang diciptakan dan bukan Tuhan.

–         Bukti keempat bersifat analogis yaitu diantara makrokosmos dan mikrokosmos. Contohnya berfungsinya tubuh manusia yang tertib dan mulus yang menunjukkan ke arah adanya pengatur yang cerdas dan tidak kelihatan. Demikian pula jalannya alam semesta yang tertib dan selaras menunjukkan kearah adanya pengatur yang serba cerdas dan tidak kelihatan yakni Tuhan.

–         Bukti kelima yakni argumen teologis. Ia menunjukkan bahwa gejala alam yang tertib dan menakjubkan itu tidak mungkin ada maksud tertentu dan terjadi secara kebetulan. Gejala itu menyiratkan sesuatu pengarahan yang menakjubkan dan pengaturan yang datang dari Tuhan. Al-Kindi memandang eksistensi keteraturan, ketertiban dan keselarasan dalam alam sebagai akibat dari pengaturan-Nya yang bijaksana.21

Al-Kindi berusaha membuktikan bahwasanya Tuhan itu ada dengan cara membaca tanda-tanda kejadian di alam ini. Setiap kejadian yang selalu mengalami perubahan, namun perubahannya tetap berjalan tertib. Dan setiap perubahan segala sesuatu yang terjadi di muka bumi pasti ada pelajaran yang bisa diambil, terutama bagai orang-orang yang berfikir. Firman Allah:

فَالِقَ اْلاِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَفًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ذلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ.

Artinya: “Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang maha perkasa lagi maha mengetahui”.22

  1. Mengenai Sifat-sifat-Nya

Qur’an menyatakan Tuhan hanya satu. Tiada Tuhan kecuali Allah. Mengenai sifat-sifat Tuhan terdapat tujuh puluh dua mazhab yang memberikan argumennya. Namun, semuanya itu merupakan variasi dari mazhab utama : Antropomorfis, Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Kelompok pertama mengatakan bahwa sifat-sifat Tuhan sama dengan sifat manusia. Mayoritas mu’tazilah mendukung teori bahwa sifat-sifat Tuhan sama dengan escusi-Nya.23

Al-Kindi sebagai filosofi muslim tak henti-hentinya menegakkan Ke-Tauhidan, dan menantang segala hal yang dapat merusak ketauhidan itu sendiri. Al-Kindi telah membuktikan adanya Tuhan yang Esa (satu). Adanya Tuhan tidak sama seperti adanya manusia yang telah diciptakan oleh Tuhan, karena hal itu dapat menggugurkan ke-Esaan Tuhan.

…لَيْسَ كَمِثْلِه شَئٌ وَهُوَالسَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Atinya :   “…tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”24

  1. Etika

Al-Kindi menerangkan bahwa jiwa manusia menyatu dengan tubuh di satu pihak dan mempunyai asal-usul dipihak lain mematikan hawa nafsu adalah jalan untuk memperoleh keutamaan, kenikmatan hidup lahiriah adalah keburukan. Bekerja untuk memperoleh kenikmatan berarti meninggalkan penggunaan akal.25

Firman Allah:

اِعْلَمُوْا انما الْحَيَوةِ الدُّنْيَا لَعِبُ وَلَهْوٌوَتَفَا خُرٌبَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى اْلاَمْوَالِ وَاْلاَوْلاَدِ…

Artinya:   “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan diantara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak….26

Al-Kindi sebagai seorang filosofi muslim selain bertafakur akan adanya Tuhan, ia juga berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam mencari kebenaran Al-Kindi Tak mau meyakini sesuatu yang sifatnya hanya sesaat.

C.     Pemaduan Filsafat dan Agama

Al-Kindi adalah orang Islam yang pertama memadukan/menyelaraskan antara filsafat dan agama, atau antara akal dan Wahyu. Menurutnya keduanya itu tidak bertentangan karena masing-masing keduanya adalah ilmu tentang kebenaran. Sedangkan kebenaran itu adalah satu (tidak banyak). Ilmu filsafat meliputi ketuhanan, kesesaan-Nya, dan keutamaan lain yang mengajarkan untuk mengambil manfaat dan menjauhkan diri dari yang mudarat. Hal ini juga sesuai dengan apa yang dibawa oleh para rasul Allah yang menetapkan keesaan Allah dan memastikan keutamaan yang diridhai-Nya.

Tujuan ungkapan Al-Kindi tersebut adalah untuk menghalalkan filsafat bagi umat Islam dengan membawa ayat al-Qur’an.27

…فَاعْتَبِرُوْايااُوْلِى اْلاَبْصَارِ.

Artinya:   “…maka ambillah untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan”.28

Lebih lanjut Al-Kindi mengemukakan tiga alasan pemaduan filsafat dan agama, yaitu:

  1. Ilmu agama merupakan bagian dari filsafat.
  2. Wahyu yang diturunkan kepada nabid an kebenaran filsafat saling bersesuaian.
  3. Menuntut ilmu, secara logika, diperintahkan dalam agama.

Dalam tulisannya Kammiyat Kutub Aristoteles, al-Kindi mengemukakan perbedaan antara filsafat dan agama, sebagai berikut:

  1. Filsafat adalah ilmu kemanusiaan yang dicapai oleh filosofi dengan berpikir, belajar, dan usaha-usaha manusiawi. Sementara itu, agama adalah ilmu ketuhanan yang menempati peringkat tertinggi karena diperoleh tanpa proses belajar,berpikir, dan usaha-usaha manusiawi, melainkan hanya dikhususkan bagi para rasul yang  dipilih Allah dengan menyucikan jiwa mereka dan memberinya Wahyu.
  2. Jawaban menunkukkan ketidakpastian (semu) Dan memerlukan pemikiran atau perenungan. Sementara itu, agama (al-Qur’an) jawabannya menunjukkan kepastian (mutlak benar) dan tidak memerlukan pemikiran atau perenungan.
  3. Filsafat menggunakan metode logika, sedangkan agama menggunakan metode keimanan.29

D.    Kesimpulan

Al-Kindi adalah seorang filosofi Islam yang berusaha mempertemukan ajaran Islam dengan filsafat Yunani. Ia hidup pada masa perkembangan aliran Mu’tazilah yang dirikan oleh Washil bin A’tha. Sebagai seorang filosofi ia yakin bahwa rasio yang diberikan Tuhan haruslah dimanfaatkan untuk mencari tentang kebenaran realitas, namun dalam mencari kebenaran tersebut sebagai muslim ia harus berpedoman pula dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an sumber dari segala sumber ilmu. Pada dasarnya berbagai cabang ilmu, termasuk ilmu pengetahuan umum yang diadopsi oleh orang-orang barat (Yunani) berasal dari Islam (Al-Qur’an). Namun, di saat kemunduran Islam pada masa Turki Utsmani piintu ijtihad ditutup sehingga para pemikir  Islam menerima  apa adanya, tanpa berani mengembangkannya, karena  takut  divonis  kafir.

Menurut Al-Kindi tidak semua filosofi Yunani itu bertentangan dengan agama. Namun, tidak semua pula harus diterima. Sebagai seorang yang berpengetahuan tinggi Al-Kindi mengambil beberapa bagian pendapat para filosofi Yunani. Karena itulah, ia disebut penganut aliran Elektisime. Dalam berfilsafat, Al-Kindi tidak mengaburkan agama. Ia adalah orang yang berhasil mendamaikan antara filsafat dan agama. Ia menghadapkan argumennya kepada orang-orang agama yang tidak senang terhadap filsafat dan filosof. Jika ada yang mengatakan bahwa filsafat tidak perlu, mereka harus memberikan argumen dan menjelaskannya. Usaha pemberian argumen tersebut merupakan bagian dari pencarian pengetahuan tentang hakikat. Dengan demikian, Al-Kindi merupakan pioner dalam melakukan usaha pemaduan antara filsafat dan agama atau akal dan Wahyu. Ia melapangkan jalan bagi Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd yang datang kemudian. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Al-Kindi telah memainkan peranan besar dan penting dipentas filsafat Islam.

Ia juga berargumen bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan, berbeda dengan pendapat Aristoteles yang mengatakan bahwa alam semesta ini tidak diciptakan dan bersifat abadi. Oleh karena itu, Al-Kindi tidak termasuk filosofi yang dikritik Al-Ghazali. Al-Kindi juga tidak mau ketinggalan dengan pemikiran Barat. Ia juga mempelajari ilmu umum untuk meningkatkan kemajuan umat Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Atiyeh, George N., Al-Kindi Tokoh Filsafat Muslim, Bandung : Pustaka, 1983.

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya Al-‘Ally, Bandung : Diponegoro, 2005.

Madkour, Ibrahim, Aliran dan Teori Filsafat Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1995.

Mahdi Khan, Ali, Dasar-Dasar Filsafat Islam, Bandung : Nuasa, 2004.

Mustofa, A., Filsafat Islam, Bandung : Pustaka Setia, 1997.

Smith, Huston, Ensiklopedi Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999.

Zar, Sirajuddin, Filsafat Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004.


1 A. Mustofa. H, Filsafat Islam, Bandung : Pustaka Setia, 1997, cet. 1, h. 99.

2 George N. Atiyeh, Al-Kindi Tokoh Filsafat Muslim, Alih Bahasa Kasidjo Djojosuwarno, Bandung : Pustaka, 1983, cet. 1, h. 1.

3 Ali Mahdi Khan, Dasar-Dasar Filsafat Islam, Bandung : Nuansa, 2004, cet. 1, h. 47.

4 A. Mustofa. H, Filsafat …, h. 100.

5 Ali Mahdi Khan, Dasar-Dasar…, h. 47.

6 Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1995, cet. 1, h. 229.

7 A. Mustofa. H, Filsafat, h. 102.

8 Ibid, h. 104.

9 Aliran Elektisime adalah suatu kepercayaan yang tidak mempergunakan atau mengikuti metode apapun yang ada, melainkan apa yang paling baik dari metode-metode filsafat.

10 Ibid, h. 101-2.

11 Ali Mahdi Khan, Dasar-Dasar…, h. 48.

12 A. Mustofa. H, Filsafat …, h. 108-9.

13 Huston, Smith, Ensiklopedi Islam, (terj.), Ghufron A. Mas’adi, edisi 2, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999, h. 220.

14 A. Mustofa. H, Filsafat …, h. 109.

15 Al-Hadid [57] : 3.

16 Ar-Rahman [55] : 27

17 George N. Aliyeh, Al-Kindi…, h. 55.

18 As-Sajadah [32] : 4.

19 George N. Atiyeh, Al-Kindi…, h. 57-9.

20 Al-Baqarah [2] : 163.

21 George N. Atiyeh, Al-Kindi…, h. 57-9.

22 Al-An’am [6] : 96.

23 George N. Atiyeh, Al-Kindi…, h. 59-60.

24 As-Syuura [42] : 1.

25 A. Mustofa. H., Filsafat…., h.110.

26 Al-Hadid [57] : 20.

27 Sirajuddin, Zar, Filsafat Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004, h. 44

28 Al-Hasyr [59] : 2

29 Sirajuddin Zar, Filsafat….,h. 45-8

Belum Ada Tanggapan to “FILSAFAT ISLAM”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: